Angka Kematian Ternak Sapi Bali di Pulau Timor
I Gusti N. Jelantik
Rataan angka ternak sapi di Pulau Timor ditampilkan pada tabel 1. Angka kematian ternak sangat tinggi terutama pada pedet yang mencapai mencapai 35,1% per tahunnya. Walaupun angka tersebut sangat bervariasi antar desa, namun secara umum sejalan dengan temuan peneliti sebelumnya yang mencatat angka kematian pedet yang sangat tinggi. Wirdahayati (1989) melaporkan bahwa tingkat kematian pedet pada sapi Bali yang dipelihara secara ekstensif atau semi-intensif di NTT berkisar antara 25 sampai 30%. Bamualim dkk. (1990), Malessy dkk. (1990) dan Bamualim (1992) mencatat kematian pedet mencapai 47% dari jumlah yang dilahirkan. Tingkat kematian yang sangat tinggi yaitu lebih dari setengah (53,3%) juga pernah dilaporkan (Fattah, 1998). Hal ini sekali lagi menunjukkan bahwa kematian pedet merupakan faktor utama yang menyebabkan rendahnya produktivitas ternak sapi di NTT. Kematian pedet yang tinggi tersebut telah menyebabkan angka sapihan dan produksi anak hanya sekitar 42 % dan hanya 21 % bakalan jantan yang dapat digemukkan setiap tahunnya. Dengan demikian upaya untuk menekan angka kematian pedet merupakan upaya strategis dalam meningkatkan produktivitas ternak sapi di NTT.
Table 3. Rataan (Lsmeans) tingkat kematian ternak (%) pada dua sistem pemeliharaan
|
Kelompok Umur |
Sistem |
SEM |
P |
|
|
Gembala |
Ikat |
|
|
|
|
<1 (pedet) |
35.8 |
34.4 |
9.00 |
.9 |
|
1-2 tahun |
13.2 |
16.4 |
4.01 |
.3 |
|
2-3 tahun |
9.46 |
4.72 |
3.14 |
.3 |
|
Dewasa |
4.94 |
8.64 |
2.11 |
.2 |
Tingginya kematian anak sapi ini sebelumnya disinyalir merupakan karakteristik bangsa sapi Bali. Sebagai contoh, Kirby (1979) memberikan alasan lemahnya hubungan antara anak-induk sebagai penyebab tingginya mortalitas pedet. Peneliti tersebut mendapatkan tingginya kejadian cross suckling pada kelompok sapi Bali di semenanjung Cobourg di Australia Utara. Sebagian peternak di NTT juga mendapatkan anak sapinya lari bersembunyi ke semak-semak sampai berhari-hari. Sinyalir ini sekilas didukung oleh kenyataan bahwa mortalitas anak sapi Bali relatif tidak berubah dari tahun ke tahun walaupun hampir dipastikan telah terjadi perubahan lingkungan yang cukup signifikan pada awal dan akhir tahun 90an. Namun apabila kita perhatikan lebih jauh bahwa kematian anak sapi terkonsentrasi pada pertengahan dan akhir musim kemarau, nampak faktor yang lebih mudah dipahami yaitu stress pakan paling tidak memberikan sumbangan yang besar bagi tingginya angka kematian anak sapi. Kesimpulan ini juga dapat ditarik dari kenyataan mengapa hanya di NTT mortalitas pedet begitu tinggi sementara di Bali (Anon., 1975) dan di daerah lainnya di Indonesia (Anon., 1981) angka kematian anak sapi hanya 7%. Perbedaan utama daerah NTT dengan daerah lainnya di Indonesia adalah adanya musim kelangkaan pakan selama kemarau yang panjang (8-9 bulan). Ironisnya, musim kelahiran anak sapi Bali di NTT justru terkonsentrasi selama bulan Juni sampai Agustus atau pada pertengahan musim kemarau (Toelihere dkk., 1990; Jelantik, 2001). Mudah dipahami bahwa pedet yang dilahirkan oleh seekor induk yang mengalami stress pakan akan dibatasi oleh rendahnya produksi susu.
Di samping mortalitas pedet yang tinggi tersebut, hasil survey yang dilakukan juga menemukan angka kematian yang cukup tinggi pada ternak sapi muda yang berumur 1 sampai 2. Hasil yang diperoleh ini pada umumnya lebih tinggi dari laporan sebelumnya yang mendapatkan angka kematian tidak lebih dari 7% (Bamualim dan Wirdahayati, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa pedet yang berhasil hidup pada tahun pertama masih rentan mati pada tahun berikutnya
Dalam survey yang diadakan berbagai faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian ternak dipertimbangkan antara lain variasi antar desa yang disebabkan oleh variasi ketersediaan pakan dan pengelolaan ternak, serta perbedaan sistem pemeliharaan. Kedua faktor tersebut merupakan faktor kunci dan dapat dijadikan acuan dalam menyusun strategi menekan angka kematian ternak di Propinsi NTT.
Kalau dilihat distribusi kematian pedet (gambar1) ternyata terakumulasi atau sekitar 77,1 % yang terbagi dalam dua puncak kematian yaitu pada bulan Juni-Juli dan November-Januari. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kematian pedet pada terjadi beberapa hari setelah kelahiran dan selama akhir musim kemarau. Puncak kematian pertama beberapa hari setelah kelahiran terutama disebabkan oleh ketidak-cukupan asupan susu. Produksi susu sapi Bali pada umumnya sangat rendah karena mengalami defesiensi nutrisi yang berat. Berbagai laporan mendapatkan produksi susu sapi Bali hanya 0,79 (Wirdahayati dan Bamualim, 1990) sampai 1,4 kg/hari (Jelantik dkk., 1998; Jelantik, 2001). Di samping itu, sapi Bali mempunyai reputasi menghentikan produksi susunya dan membiarkan anaknya mati ketika defesiensi nutrisi yang dialaminya telah mencapai ambang batas (threshold) yang mempengaruhi liabilitas reproduksinya. Strategi ini berbeda dengan sapi Ongole yang mempertahankan anaknya dengan tetap memproduksi susu menggunakan cadangan energi dalam tubuh dan mengorbankan kesuburannya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa angka kelahiran ternak sapi Bali tetap tinggi walaupun mengalami cekaman nutrisi yang berat selama musim kemarau (Jelantik, 2001).
Puncak kematian kedua yang terjadi selama akhir musim kemarau terutama disebabkan oleh kelangkaan pakan yang dialami oleh pedet pada stadium umur yang lebih tua yaitu pada saat mereka telah mampu makan dan tidak tergantung lagi dengan susu induknya. Sementara itu, kualitas dan kuantitas pakan yang ada di padang penggembalaan menurun dengan drastis (Jelantik, 2001). Dengan demikian, upaya yang dapat dilakukan untuk menekan angka kematian pedet adalah dengan memberikan pakan suplemen kepada ternak terutama pada pedet. Upaya lainnya adalah dengan memodifikasi musim kelahiran sehingga jatuh selama musim hujan (akhir musim hujan) ketika ketersediaan hijauan dengan kualitas memadai cukup melimpah.

Gambar 1. Distribusi kematian pedet pada sistem pemeliharaan yang berbeda; -----musim hujan ¾ musim hujan
Hasil survey menunjukkan bahwa terdapat variasi yang besar pada angka mortalitas pedet sapi Bali antar desa. Angka kematian pedet yang tinggi tercatat di Desa Besipae dan Naiola yang mencapai angka 55,6 % dan terendah di Desa Sumlili yang hanya 22,1% perbedaan antar desa tersebut nampaknya disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor pertama adalah variasi ketersediaan pakan antar desa dan hal ini berhubungan dengan tingkat kematian pedet (Jelantik, 2001). Hasil penelitian sebelumnya (Jelantik, 2001) menunjukkan bahwa terdapat variasi yang besar antar desa dalam ketersediaan pakan terutama selama musim kemarau.
Variasi antar desa dalam angka kematian pedet juga mungkin disebabkan oleh perbedaan dalam pemeliharaan ternak sapi. Dalam penelitian ini secara khusus dikaji pengaruh sistem pemeliharaan terhadap angka kematian pedet. Hasil survey menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata di antara sistem pemeliharaan dalam hal angka kematian pedet. Dengan demikian sistem yang lebih intensif yaitu dengan mengikat sapi tidak memperbaiki angka kematian pedet. Hal ini cukup mengherankan karena pemeliharaan yang lebih intensif diasumsikan bahwa peternak lebih mempunyai perhatian terutama dalam penyediaan pakan. Namun demikian temuan ini mengindikasikan bahwa status pakan ternak mungkin berbeda di antara kedua sistem pemeliharaan. Hal ini mungkin dapat dimengerti mengingat alasan utama peternak mengikat sapi bukanlah alasan karena peternak ingin memberikan perhatian yang lebih besar pada ternaknya melainkan karena sudah tidak lagi terdapat luasan lahan padang penggembalaan yang cukup atau mungkin karena alasan tingginya tingkat pencurian ternak.
Disimpulkan bahwa Angka kematian pedet masih sangat tinggi yaitu mencapai 35,1% dengan dua puncak kematian masing-masing pada bulan Juli dan November. Angka kematian ternak muda juga masih tinggi. Tingginya angka kematian pedet dan ternak muda tersebut merupakan faktor utama yang menyebabkan rendahnya produktivitas ternak sapi di Pulau Timor. Angka kematian ternak sapi bervariasi antar desa seiring dengan variasi ketersediaan pakan. Namun demikian, angka kematian pedet tidak dipengaruhi sistem pemeliharaan.


