Lembaga Pengembangan - Universitas Nusa Cendana

Rumput Laut Tercemar Minyak

Para petani rumput laut di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur harus "gigit jari", karena wilayah perairan budidaya komoditas yang berjuluk "emas hijau" itu tercemar minyak yang bersumber dari Laut Timor.

"Mereka (petani rumput laut) tidak bisa berbuat banyak setelah wilayah perairan budidaya tercemar menyusul meledaknya kilang minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor pada 21 Agustus 2009," kata Bupati Rote Ndao Leonard Haning ketika dihubungi dari Kupang, Sabtu (23/7). Ia mengatakan tali-tali yang dipasang untuk budidaya rumput laut di wilayah pesisir Pulau Rote, terpaksa diangkat karena rumput laut yang dibudidaya rusak semuanya. Salah seorang petani rumput laut di Pulau Rote, Gasper yang dihubungi secara terpisah mengaku sudah beberapa kali rumput laut yang dibudidaya mengalami kerusakan.

 

"Pada tahun lalu, sekitar bulan Juli, kami sudah bisa panen rumput laut meski hasilnya kurang menggembirakan. Tetapi, tahun ini sama sekali tidak ada hasil apa-apa," katanya. Ia menduga, kerusakan komoditas "emas hijau" akibat perubahan cuaca dan adanya sisa limbah minyak akibat tumpahan minyak di perairan Australia Barat, beberapa waktu lalu yang sampai ke wilayah Rote Ndao. Petani rumput laut asal Kecamatan Rote Timur itu mengatakan sudah beberapa kali dirinya mengganti tanaman rumput laut yang rusak dengan bibit baru, namun hasilnya tetap tidak ada.

Ia mengharapkan pemerintah segera mengambil langkah-langkah dalam mengatasi persoalan yang dihadapi petani rumput laut sekarang, karena komoditas tersebut menjadi andalan para petani di pulau terselatan Indonesia itu. Ferdinan Nalle, petani rumput lainnya di Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, juga mengalami persoalan yang sama terkait dengan usaha budidaya rumput laut tersebut. "Sebagian besar petani di sini (Tablolong, red) sudah tidak bisa lagi budidaya rumput laut, karena tidak pernah ada hasilnya meski sudah mengganti dengan bibit baru," ujarnya.

Sementara itu, ahli biokimia lipida dari Universitas Nusa Cendana Kupang Dr Feliks Rehbung mengatakan kegagalan petani dalam membudidaya rumput laut itu akibat wilayah perairan budidaya sudah tercemar minyak. Ia mengatakan untuk mengembalikan wilayah perairan budidaya yang sudah tercemar, perlu diupayakan dengan pemupukan untuk memperbanyak jumlah mikro organisme untuk mengurangi minyak dalam menghambat pertumbuhan rumput laut.

Dosen Fakultas Pertanian Undana Kupang ini menambahkan untuk memulihkan wilayah perairan yang rusak membutuhkan waktu yang sangat lama, karena residu minyak itu susah hilang.

(Sumber :MediaIndonesia.com)

 

Add comment


Security code
Refresh