Lembaga Pengembangan - Universitas Nusa Cendana

MONEV SBMPTN TAHUN 2014

 

MONITORING DAN EVALUASI SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI (SBMPTN) 2014

Pelaksanaan ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Selasa 17 Juni 2014 lalu di Universitas Nusa Cendana (Undana) di kampus Undana dan di beberapa sekolah SMA, SMK dan SMP di Kota Kupang berlangsung aman dan tertib. Cukup banyak peserta yang dinyatakan gugur, karena tidak hadir tanpa alasan yang jelas.

Pelaksanaan ujian SBMPTN di beberapa lokasi berjalan aman dan tertib. Data ujian SBMPTN tahun ini seharusnya diikuti 11.436 orang peserta. Namun yang hadir mengikuti ujian hanya 10.334 peserta saja dan 1.102 peserta tidak hadir mengikuti ujian tanpa kabar yang jelas. Rinciannya untuk IPA/Saintek berjumlah 2.984 peserta, yang tidak hadir sesi pertama 510 orang. Kelompok IPS/Soshum sebanyak 3.815 orang, yang tidak hadir sesi kedua dan ketiga sebanyak 262 orang dan kelompok IPC 4.637 orang, yang tidak hadir sesi kedua dan ketiga sebanyak 330 orang.

Undana ditunjuk sebagai salah satu perguruan tinggi penyelenggara SBMPTN di Wilayah III dengan kode panitia lokal 66. Sudah beberapa tahun ini menyelenggarakan SBMPTN, namun Undana bertekad untuk menyelenggarakan kegiatan ini secara profesional, sesuai dengan standar-standar yang berlaku. Dalam kerangka inilah Undana melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev).

Kegiatan Monevin ini bertujuan untuk mengetahui apakah penyelenggaraan SBMPTN di Undana telah sesuai dengan standar-standar yang ditetapkan oleh Ditjen Dikti. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengetahui kendala-kendala yang menghambat penyelenggaraan program serta merumuskan rekomendasi perbaikan untuk mengatasi kendala-kendala yang ditemukan. Semoga hasil Monev ini bermanfaat dalam upaya peningkatan mutu pengelolaan SBMPTN ke depannya.

Mekanisme monev ini dilaksanakan dengan mengacu pada instrumen yang dibagikan oleh panitia lokal, yang diterbitkan oleh Ditjen Dikti, Kemdikbud, pada tahun 2014. Ujian SBMPTN terdiri atas ujian tertulis dan ujian keterampilan. Ujian tertulis berlaku bagi semua peserta, sedangkan ujian keterampilan hanya berlaku bagi peserta yang memilih program studi bidang Keolahragaan.

Adapun mekanisme pelaksanaan monev adalah sebagai berikut ini:

(1) Penetapan responden untuk mengisi instrumen monev berdasarkan keterwakilan 3 sektor ujian, yakni: (1) sektor A (IPA/Sainstek), (2) sektor B (IPS/Soshum), dan (3) sektor C (IPC/Campuran). Responden Monev SBMPTN yang digunakan dalam monev ini terdiri dari unsur-unsur berikut: Perguruan Tinggi Penyelenggara, Asesor Internal, Peserta Ujian Tulis, Pengawas Ruang, Penanggung Jawab Ruang, Peserta Ujian Keterampilan, dan Tim Penguji Keterampilan.

(2) Pengisian instrumen monev oleh para responden melalui penanggung jawab lokasi (PJL).

(3) Penyerahan instrumen monev dari responden kepada tim pelaksana monev.

(4) Tim monev memeriksa dan membuat rekapitulasi data dari instrumen monev.

(5) Tim monev melakukan wawancara dengan responden dan melaksanakan visitasil apangan (keruangan ujian tulis, lokasi uji kesehatan dan l lapangan untuk ujian keterampilan Penjaskesrek) untuk memverifikasi data yang diberikan oleh responden.

(6) Tim monev melaksanakan wrapping-up meeting dengan panitia lokal SBMPTN untukmenyampaikan hasil monev.

(7) Tim monev menyusun laporan hasil monev.

Jadwal setiap tahap pelaksanaan monev dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

 

No

Kegiatan

Tanggal Pelaksanaan

1

Penetapan peserta ujian untuk mengisi instrumen monev

13 – 16 Juni 2014

2

Pengisian instrumen monev ujian tulis oleh peserta ujian

17 Juni 2014

3

Penyerahan instrumen monev ujian tulis dari responden kepada tim pelaksana monev

17 Juni 2014

4

Tim monev memeriksa dan membuat rekapitulasi data dari instrumen monev ujian tulis

18 – 20 Juni 2014

5

Tim monev melakukan wawancara dengan perguruan tinggi penyelenggara SBMPTN dan tim penguji uji ketrampilan

18 Juni 2014

6

Pengisian instrumen monev ujian ketermpilan oleh peserta ujian

18 Juni 2014

6

Tim monev melaksanakan wrapping-up meeting dengan panitia lokal untuk menyampaikan hasil monev

20 Mei 2014

7

Tim monev menyusun laporan hasil monev

20 23Juni 2014

 

Tim pelaksana monev terdiri dari 3 orang yaitu:

· Ir. Heru Sutedjo, M.Agr.Sc., PhD, (Ketua merangkap anggota)

· Dr. Chaterina Agusta Paulus, SPi., MSi (Sekretaris merangkap anggota)

· Dr. Anton Kerihi, SE, MS

Berdasarkan hasil monev yang dilakukan maka dapat disimpulkan beberapahalsebagaiberikut:

(3) Penyelenggaraan program SBMPTN di Undana telah sesuai dengan standar-standar yang ditetapkan Ditjen Dikti meskipun masih terdapat beberapa kelemahan yang perlu segera diperbaiki.

(4) Kelemahan-kelemahan yang ditemukan dalam penyelenggaraan SBMPTN yang perlu segera diperbaiki adalah sebagai berikut:

a) Tidak semua pengawas ruang dan penanggung jawab ruang di linkungan Undana mendapatkan surat tugas oleh pimpinan universitas.

b) Denah lokasi ujian di lingkungan Undana belum jelas sehingga beberapa peserta ujian kesulitan dalam mencari ruangan ujian.

Rekomendasi perbaikan yang diberikan untuk memperbaiki penyelenggaraan SBMPTN adalah sebagai berikut:

a) Pembentukan panitia SBMPTN sudah ada dua bulan sebelum pelaksanaan SBMPTN sehingga SK dan Surat Tugas sudah dipegang oleh pengawas ruang dan penanggung jawab ruang.

b) Kejelasan lokasi denah ujian dan ruang ujian harus di sosialisasikan satu minggu sebelum pelaksanaan ujian melalui media elektronik seperti website Undana dan media cetak seperti koran lokal.

 

 

 

 

SEMINAR NASIONAL

 

SEMINAR NASIONAL “STRATEGI PENJAMINAN MUTU PERGURUAN TINGGI DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN GLOBAL”

Awal Juli lalu bertempat di Aula Undana Penfui, Lembaga Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi (LPMPT) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar Seminar Nasional “Strategi Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi Dalam Menghadapi Persaingan Global”.

Seminar tersebut menghadirkan tiga pembicara nasional seperti Direktur PPs Univ. Sarjanawiyata Taman Siswa yang juga Wakil Presiden Pan-Pacific Assosiation of Private Edcation di Jepang, Prof. Dr. Ki Supriyoko,SDU.,M.Pd. Prof. Dr. Soesanto dari UNS, dan juga Konsultan Pendidikan di Ditjen Dikti Kemdikbud dan Kabid Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kemdikbud, Dra. Renny Yunus, MM. Sementara itu empat pembicara internal Undana, seperti Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik Lukas Benu, M.Si.,Ph.D, Direktris PPs Undana, Prof. Dr. Jublin F. Bale-Therik, MS, Ketua Lembaga Penelitian Undana, Prof. Dr. Mien Ratoe Oedjoe, M.Pd dan Dekan Fapet Undana, Ir. AgustinusKonda Malik, M.Si.

Rektor, Prof. Fred Benu dalam sambutannya ketika membuka kegiatan tersebut mengatakan bahwa saat ini Undana dituntut untuk memberikan jasa pelayanan yang tinggi melalui kualitas dan mutu dari hari ke hari agar semakin baik.

Menurut Rektor Fred Benu, di Indonesia bagian Timur di NTT, khususnya di Undana, tuntutan peningkatan mutu di Undana dalam kepemimpinan di tingkat universitas, fakultas, saat ini sangat penting. Untuk itu dalam awal kepemimpinannya telah menggerakkan semua unsur pimpinan fakultas, jurusan maupun prodi di lingkungan Undana guna memacu peningkatan nilai akreditasi dari “C” ke “B”.  Pihaknya telah mencoba terhadap setiap prodi agar dapat melayani dengan mutu yang standar untuk menjamin pendidikan mahasiswa pada fakultas tersebut. Demikian juga semua pimpinan telah didorong untuk dapat bertanggung jawab terhadap fakultas yang dipimpinnya “Jadi kami berupaya dengan memberikan sejumlah dana agar setiap prodi dapat memperjuangkan akreditasinya minimal mendapat nilai “B”. Ini merupakan upaya dan komitmen dan kewajiban moral kami sebagai pimpinan universitas guna mendorong dan meningkatkan nilai akreditasi pada prodi tersebut,” kata Fred Benu yang saat itu di dampingi Ketua LPMPT, Ir. Heru Sutedjo, M.Agr.Sc.Ph.D.

Yang paling penting, kata Rektor, Benu, selama para pimpinan universitas, pascasarjana, fakultas, lembaga, dan biro serta unsur penunjang lainnya tidak memiliki komitmen yang tinggi untuk mengejar ketertinggalan kita soal akreditasi prodi, maka semuanya tidak akan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Sekarang sudah ada wacana, soal akses para pelamar menjadi CPNS, tidak diperkenankan untuk menerima lulusan yang berijazah akreditasi “C”.

Prof. Ki Supriyoko dalam pemaparan materinya menjelaskan, selama ini akreditasi prodi dan AIPT dijalankan oleh BAN-PT. Kondisi ini sesuai dengan amanat (Pasal 55) UUPT yang menyebutkan bahwa  AIPT dilakukan oleh BAN-PT, sedangkan akreditasi prodi sebagai bentuk akuntabilitas publik dilakukan lembaga akreditasi mandiri (LAM).

Menurutnya, dengan belum terbentuknya satu satupun LAM, maka semua akreditasi perguruan tinggi, akreditasi prodi dan AIPT, dilakukan oleh BAN-PT. Hal ini menyebabkan atrean panjang akreditasi, sehingga perguruan tinggi harus menunggu giliran lama untuk diakreditasi.

Karena itu, kedepan katanya, LAM dari berbagai rumpun ilmu atau cabang ilmu harus segera dibentuk. Pembagian tugasnya, AIPT dilakukan oleh BAN-PT, sedangkan akreditasi prodi dilakukan oleh LAM. Hal ini akan memperpendek antrean, sehingga perguruan tinggi tidak perlu menunggu lama untuk mendapat giliran akreditasi. (David Sir-Humas Undana)

 

MONEV PPG SM3T

MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM PROFESI GURU SARJANA MENDIDIK DI DAERAH TERDEPAN, TERLUAR DAN TERTINGGAL (PPG SM-3T) 2014

Dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) telah meluncurkan beberapa program peningkatan profesionalitas guru, sebab guru dipandang memiliki fungsi sentral dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Salah satu program tersebut adalah program sertifikasi guru. Namun program ini dianggap kurang berhasil dalam meningkatkan profesionalitas guru. Oleh sebab itu, Ditjen Dikti kembali meluncurkan program baru yaitu program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Ada beberapa jenis program PPG dan salah satunya adalah PPG SM3T. Program PPG SM3T hanya menerima mahasiswa dari para mantan peserta program SM3T. Agar program PPG SM3T memberikan hasil yang diharapkan maka program ini harus disertai dengan program penjaminan mutu. Terkait dengan penjaminan mutu, Ditjen Dikti telah menetapkan standar minimal yang harus dipenuhi oleh para penyelenggara program PPG.

Mulai tahun 2014, Universitas Nusa Cendana (Undana) ditunjuk sebagai salah satu perguruan tinggi penyelenggara program PPG SM3T. Meskipun baru tahun ini menyelenggarakan program PPG, namun Undana bertekad untuk menyelenggarakan program ini secara profesional, sesuai dengan standar-standar yang berlaku. Dalam kerangka inilah Undana melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi Internal (Monevin).

Kegiatan Monevin ini bertujuan untuk mengetahui apakah penyelenggaraan program PPG SM3T di Undana telah sesuai dengan standar-standar yang ditetapkan oleh Ditjen Dikti. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengetahui kendala-kendala yang menghambat penyelenggaraan program serta merumuskan rekomendasi perbaikan untuk mengatasi kendala-kendala yang ditemukan.

Rendahnya mutu pendidikan, baik pendidikan dasar, menengah maupun tinggi, telah menjadi keprihatinan nasional. Mutu pendidikan di indonesia masih sangat jauh dari standar mutu internasional. Sebaliknya dampak globalisasi menuntut sumberdaya manusia yang berkualitas untuk menunjang daya saing bangsa. Dalam persaingan pasar bebas yang minim aturan hanya bangsa dengan daya saing yang tinggi, yang akan mampu menguasai pasar dan memperoleh manfaat ekonomi. Sebaliknya bangsa dengan daya saing rendah akan terekploitasi dan, pada akhirnya, harus tunduk pada kemauan bangsa yang berdaya saing tinggi.

Guru memegang peranan sentral dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Oleh sebab itu, pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk meningkatan profesionalitas guru. Berbagai program telah dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut. Diantara program-program tersebut adalah program sertifikasi guru. Namun programini, baik yang dilaksanakan melalui portofoliomaupun PLPG, dipandang belum memenuhi harapan. Kualitas dan kinerja guru-guru bersertifikat profesional hasil program sertifikasi tersebut dinilai oleh berbagai pihak belum memuaskan. Faktor usia guru peserta dan materi program dinilai menjadi sebagian faktor penyumbang belum idealnya kualitas guru profesional.

Sebagai salah satu upaya untuk menjawab masalah tersebut di atas, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) meluncurkan Program Pendidikan Guru (PPG) seperti Program PPGT (Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi Berkewenangan Tambahan), PPG Kolaboratif, dan PPG pasca-SM-3T (PPG SM-3T). PPGT, PPG Kolaboratif, dan PPG SM-3Tmerupakan program PPG rintisan. Melalui PPG ini diharapkan akan dihasilkannya guru profesional, yang lebih berkualitas.

Untuk menjamin kualitas dan kepuasan pengguna lulusan PPG, maka penjaminan mutu/kualitas (quality assurance) program, proses, dan unsur lain yang terkait dengan pembentukan lulusan tersebut harus dapat ditunjukkan dan dipertanggungjawabkan. Penjaminan mutu proses dan produk program PPG harus dilakukan menyertai penyelenggaraan program itu sendiri.

Universitas Nusa Cendana (Undana) merupakan salah satu LPTK yang diberi kepercayaan untuk menyelenggarakan program PPG SM3T. Program tersebut baru mulai dilaksanakan di Undana pada tahun 2014. Sesuai dengan tuntutan aturan maka Undana juga bertekad untuk melaksanakan penjaminan mutu bagi program tersebut. Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi Internal (Monevin) untuk program PPG SM3T ini merupakan salah satu wujud dari komitmen untuk melaksanakan penjaminan mutu.

Mekanisme monevin ini dilaksanakan dengan mengacu pada instrumen yang tercantum dalam buku Panduan Penjaminan Mutu Pendidikan Profesi Guru (PPG), yang diterbitkan oleh Ditjen Dikti, Kemdikbud, pada tahun 2014. Adapun mekanisme pelaksanaan monevin adalah sebagai berikut ini:

(1) Penetapan responden untuk mengisi instrumen monevin Responden yang digunakan dalam monev ininiter diri dari unsur-unsur berikut: Pengelola Program PPG SM-3T, PimpinanJurusan/Program Studi, PerwakilanDosen, PengelolaAsrama, dan Perwakilan Mahasiswa.

(2) Pengisian instrumen monevin oleh para responden.

(3) Penyerahan instrumen monevin dari responden kepada tim pelaksana monevin.

(4) Tim monevin memeriksa dan membuat rekapitulasi data dari instrumen monevin.

(5) Tim monevin melakukan wawancara dengan responden dan melaksanakan visitasi lapangan (kekantor pengelola PPG, lokasi workshop danpeer teaching dan asrama) untuk memverifikasi data yang diberikan oleh responden.

(6) Tim monevin melaksanakan wrapping-up meeting dengan para pengelola program PPG untuk menyampaikan hasil monevin.

(7) Tim monevin menyusun laporan hasil monevin.

Jadwal setiap tahap pelaksanaan monevin dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

No

Kegiatan

Tanggal Pelaksanaan

1

Penetapan responden untuk mengisi instrumen monevin

02 – 06 Mei 2014

2

Pengisian instrumen monevin oleh para responden

07 – 14 Mei 2014

3

Penyerahan instrumen monevin dari responden kepada tim pelaksana monevin

14 – 19 Mei 2014

4

Tim monevin memeriksa dan membuat rekapitulasi data dari instrumen monevin

19 – 23 Mei 2014

5

Tim monevin melakukan wawancara dengan responden dan melaksanakan visitasi lapangan

26 Mei 2014

6

Tim monevin melaksanakan wrapping-up meeting dengan para pengelola program PPG untuk menyampaikan hasil monevin

28 Mei 2014

7

Tim monevin menyusun laporan hasil monevin

30 Mei – 02 Juni 2014

Tim pelaksana monevin terdiri dari 2 orang yaitu:

· Ir. HeruSutedjo, M.Agr.Sc., PhD, (Ketuamerangkapanggota)

· Dr. ChaterinaAgusta Paulus, SPi., MSi (Sekretarismerangkapanggota)

Berdasarkan hasil monevin yang disampaikan pada BAB II dari laporan ini maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

(1) Penyelenggaraan program PPG SM3T di Undana telah sesuai dengan standar-standar yang ditetapkan Ditjen Dikti meskipun masih terdapat beberapa kelemahan yang perlu segera diperbaiki.

(2) Kelemahan-kelemahan yang ditemukan dalam penyelenggaraan PPG SM3T yang perlu segera diperbaiki adalah sebagai berikut:

a) Standar Sarana dan Prasarana memiliki nilai capaian yang relatif rendah, yaitu 53,8%. Keadaan ini menunjukkan bahwa kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana yang tersedia masih jauh dari memadai untuk mendukung penyelenggaraan PPG SM3T yang bermutu.

b) Ketidaksesuaian antara kalender akademik program PPG SM3T dengan kalender akademik sekolah mitra menyebabkan keterlambatan pelaksanaan PPL dan mahasiswa tidak bisa tinggal sepenuhnya di asrama selama masa studi.

c) Belum tersedianya dokumen Standar Operating Procedure (SOP) yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan PPG SM3T.

d) Semua program studi penyelenggara program PPG SM3T belum sempat menyusun visi dan misi untuk program PPG masing-masing.

e) Kurikulum, silabus dan standar penyelenggaraan PPG yang digunakan di Undana masih sepenuhnya bersifat nasional sebab Undana belum sempat melaksanakan penyusunan kurikulum sendiri, yang melibatkan stakeholder lokal.

Rekomendasi perbaikan yang diberikan untuk memperbaiki penyelenggaraan PPG SM3T adalah sebagai berikut:

a) Undana perlu mengalokasikan dana PNBP untuk mendukung penyelenggaraan PPG SM3T terutama untuk pengadaan sarana dan prasarana agar Standar Sarana dan Prasarana dapat segera dipenuhi.

b) Jurusan/program studi penyelenggara perlu segera menyusun visi dan misi untuk program PPG, Standar Kompetensi Lulusan, dan kurikulum sesuai dengan karakteristik masing-masing jurusan/program studi dengan melibatkan stakeholders lokal NTT.

c) LPTK, fakultas dan jurusan/program studi segera menyusun dokumen-dokumen SOP yang dibutuhkan di berbagai unit penyelenggara program PPG SM3T.

d) Penyelarasan antara kalenderak ademik program PPG SM3T dan kalender sekolah mitra agar kegiatan PPL dapat dilaksanakan sesuai jadwal

e) Perkuat kemitraan dengan sekolah mitra dan guru pamong agar dukungan mereka konsisten dan berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan SCL

 

PELATIHAN PENERAPAN STRATEGI

PEMBELAJARAN STUDENT CENTERED LEARNING (SCL)

BERBASIS KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK)

1. Pendahuluan

Undana telah memiliki naskah akademik tahun 2010 sebagai standard operational procedures (SOP) pelaksanaan pembelajaran. Prinsip pembelajaran yang dikehendaki dalam naskah akademik tersebut adalah penerapan strategi pembelajaran SCL, yaitu pembelajaran aktif, menyenangkan yang berpusat pada mahasiswa. Untuk pelaksanaannya, telah diterbitkan Peraturan Rektor No 520/PP/2012 tentang Norma dan Tolok Ukur Penyelenggaraan Pelaksanaan Pendidikan Undana. Oleh sebab itu pelatihan tentang model pembelajaran inovatif dan penilaian soft skill yang tertuang dalam Tolok Ukur Penyelenggaraan Pendidikan Undana tersebut perlu segera dilaksanakan dalam rangka penerapan strategi pembelajaran aktif yang berpusat pada mahasiswa (Student Centered learning-SCL) yang merata di semua program studi di lingkungan Undana.

Tujuan pelatihan ini adalah agar dosen pada semua Program Studi dapat menerapkan model pembelajaran yang sesuai untuk menghasilkan pembelajaran aktif dan menyenangkan yang berpusat pada mahasiswa (SCL) serta untuk menyeragamkan format penilaian soft skill pada semua Program Studi di lingkungan Undana.

Sumber dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan Pelatihan Penerapan Strategi Pembelajaran Student-Centered Learning (SCL) dan Penilaian Soft Skill ini di ambil dari Pagu Anggaran PNBP LP3 Undana dari Kode Kegiatan: 4078.020 yang Trediri dari Honorarium Pengelola kegiatan dan Operasional Perkantoran (Belanja Bahan dan Belanja Barang).

2. Metode Pelatihan

Metode pelaksanaan dilakukan melalui 3 model kegiatan pelatihan, diskusi dan workshop. Pelaksanaan setiap model kegiatan selalu didahului dengan penjelasan oleh narasumber sebelum melangkah ke model kegiatan lainnya. Kegiatan ini telah dilaksanakan selama 2 (Dua) hari pada tanggal 17 s/d 18 Maret 2014 di Ruang Auditorium Undana Lantai 3 Kampus Baru Undana Jln. Adisucipto Penfui.

3. Peserta Pelatihan

Peserta yang diikutsertakan dalam kegiatan adalah para Dosen di Undana, Politani dan Poltekes Kupang yang terdiri dari 3 (tiga) perwakilan dosen dari tiap Jurusan Program Studi seluruh fakultas di Undana dan Utusan Dosen dari Politani dan Poltekes Kupang. Dengan demikian seluruh peserta berjumlah 120 orang.

4. Materi Kegiatan

Materi-materi kegiatan pelatihan SCL ini adalah sebagai berikut:

1. Konsep Dasar SCL

2. Review Sepuluh Metode SCL

3. Demo SCL 1 : Discovery Learning + Penilaian Soft Skill

4. Demo SCL 2 : Role Play and Simulation + Penilaian Soft Skill

5. Demo SCL 3 : Case Study + Penilaian Soft Skill

6. Workshop SAP SCL dan Peer Teaching

5. Narasumber Kegiatan

Narasumber kegiatan ini diangkat dengan Surat Keputusan Rektor Universitas Nusa Cendana; Nomor 539/KP/2014 Tanggal 14 Maret 2014 Tentang Pengangkatan Narasumber Pelatihan Penerapan Strategi Pembelajaran Student-Centered Learning (SCL) dan Penilaian Soft Skill Di Lingkungan Universitas Nusa Cendana Tahun 2014.

 

No.

NAMA NARASUMBER

JUDUL

MATERI

1.

Dr. David B. W. Pandie, MS

Konsep Dasar SCL

2.

Dr. Ir. S. P. Manongga, MS

Review Sepuluh Metode SCL

3.

Dr. Ir. Damianus Adar, M. Ec

Case Study dan Penilaian Soft Skill

4.

Dr. Clemens Kolo, MAT

Role-play and Simulation dan Penilaian Soft skill serta Pengembangan SAP SCL

5.

Drs. Josua Bire, M.Ed, MA, Ph.D

Discovery Learning dan Penilaian Soft skill

 

6. Keluaran Pelatihan (Output) dan Capaian Pelatihan (Outcome)

Pelatihan ini, selain memberikan pemahaman aspek teoritis kepada peserta, menyediakan juga kesempatan kepada peserta untuk melakukan praktek-praktek yang berkenaan dengan sebagian besar materi pelatihan. Oleh karena itu keluaran pelatihan yang diharapkan dapat disampaiakn sebagai berikut:

1. Peserta memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang sistem pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (SCL).

2. Peserta dapat menentukan model-model pembelajaran SCL yang digunakan dalam pembelajaran

3. Peserta dapat menyusun RPP/SAP sesuai dengan langkah model SCL yang dipilih.

4. Peserta dapat melaksanakan praktikum pembelajaran sesuai model SCL yang telah dipilih

5. Peserta dapat menyelenggarakan pembelajaran interaktif

6. Peserta dapat menerapkan penilaian berbasis kelas

Pelatihan ini menghasilkan beberapa capaian pembelajaran sebagai berikut:

1. Dosen Prodi mampu mengembangkan bahan kajian, dan menentukan model pembelajaran SCL dengan tepat.

2. Dosen Prodi mampu menyusun capaian pembelajaran, menentukan mata kuliah, menetapkan beban SKS, dan menyebarkan mata kuliah.

3. Dosen Prodi mampu mengembangkan SAP dengan benar termasuk mampu merumuskan Tujuan Umum (Kompetensi Dasar), dan Tujuan Khusus Pembelajaran.

4. Dosen mampu mengembangkan perangkat penilaian berbasis kompetensi yang meliputi ketiga ranah: kognitif, afektif, dan psikomotor.

5. Dosen mampu mengembangkan rubric penilaian softskills sesuai komopetensi yang dirancang.

7. Kesimpulan dan Rekomendasi

Dari hasil pengamatan selama kegiatan pelatihan berlangsung, disimpulkan bahwa semangat peserta untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan berkaitan dengan metode SCL dan sistem penilaian soft skill sangat tinggi. Rasanya, waktu dua hari pelatihan ini sangat singkat terutama untuk pendalaman materi-materi model pembelajaran SCL dan sistem penilaian soft skill. Dengan demikian, para peserta menyarankan kiranya pelatihan sejenis sebaiknya dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih lima hari dengan melibatkan lebih banyak dosen.

Adapun rekomendasi dari hasil kegiatan ini berdasarkan masalah yang dihadapi oleh dosen dalam rangka penerapan Pembelajaran SCL dan Penilaian Soft Skill, ialah:

a. LP3 perlu melakukan pendampingan secara berkesinambungan pada setiap prodi dalam rangka pembenahan kurikulum dan pembelajaran SCL.

b. Pelatihan penyusunan SCL, SAP dan penilaian berbasis kompetensi termasuk soft skill perlu digalakkan secara berkelanjutan dan merata kepada semua dosen dengan Waktu Pelaksanaan Pelatihan yang lebih panjang. Untuk itu setiap fakultas perlu mengalokasikan anggran pelatihan dosen di tingkat prodi minimal setahun sekali.

c. LP3 perlu menyiapkan Pedoman Penilaian Soft skills.

d. Pimpinan universitas melalui rapat-rapat pimpinan se-Undana perlu secara terus-menerus mendorong dan memantau perkembangan Penerapan SCL dan Penilaian Soft Skill pada prodi/jurusan di setiap fakultas di lingkungan Undana.

 

Persaingan yang ketat di era globalisasi menuntut Universitas Nusa Cendana (Undana)   turut bertanggung jawab atas kualitas SDM yang mumpuni. Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran (LP3) Undana melalui pusat studi kurikulum, pusat studi evaluasi dan pusat studi pengembangan media pembelajaran merupakan  instrumen pembaharuan yang hadir dengan perannya dalam membina peningkatan  sumber daya manusia (SDM) yang berorientasi pada kebutuhan stakeholders. Dalam tahun 2012 LP3 Undana menawarkan berbagi program kegiatan pelatihan.

 

Rangkuman aktivitas lembaga-lembaga di UNDANA :